Memory 29 September
Rabu, 12 Juni 2013
CAHAYA DALAM DEBU (Karya: Evin Yunarsia)
Ketika mata seakan tak dapat untuk melihat. Terukir dengan indah jejak langkahmu di tanah ibu pertiwi. Rumput melambai-lambai tertiup angin ketika bayanganmu terbang dan di telan bumi. “ hello…………. Jangan melamun dong?”. “Voni ???? Kapan kamu datang ke sini?”. Maita terkejut ketika sahabatnya datang. “aku tadi ke rumahmu dan kata ibumu, kamu ada di pante ini”. Maita terdiam dan menatap mata Voni. “ woeeee?????? Aduhh……. Melamun lagi kan? Kenapa sich kamu, cerita dong!!”. “ach… gak ada masalah kok!!! Yaa, sudah kita pulang saja. Hari sudah malam”. Maita menarik tangan Voni dan pulang ke rumah Maita.
“mama, mama, ta lapar ma? “. “iya nak, ini mama sudah buatkan kamu nasi goreng buat Voni juga”. “Terima kasih ya tante? Kebetulan saya juga belum makan”. Ibu Maita tersenyum dengan Voni. Setelah mereka selesai makan malam, Voni dan Maita menuju kamar Maita. “ta, kamu punya novel gak? Aku pinjem dong!!” . “ iya ada di atas meja ambil saja”. Ketika Voni mengambil sebuah novel, dia melihat sebuah buku yang bertuliskan apa itu kanker ?. “ta, buku apa ini? Kamu mau jadi dokter ya? Kita kan kuliah di informatika, bagaimana mau jadi dokter?”. “von, mana mungkin aku mau jadi dokter. Aku cuma baca-baca aja kok.” Voni tidak mempertanyakan itu lagi. Dan dia pulang dari rumah Maita. Cahaya bersinar begitu terang di pagi ini, melihat dari luar jendela begitu indah dunia ini. Maita berlari menuju dapur dan memeluk ibunya. “mama, seandainya papa masih dengan kita, mungkin mama gak akan kesepian”. Ibu Maita terkejut mendengar anaknya berkata seperti itu. “ ta, papa bahagia di alam sana, walaupun dia tidak dapat kita lihat tapi cintanya pada kita tetap kita rasakan”. “ma, mata ini seakan tertutup debu yang begitu tebal, tapi aku dapat berjalan dalam hidup ini karena cahaya mama dan papa”. Ibu Maita memeluk Maita dengan erat.
Kendaraan terlihat dimana-mana, begitu ribut terdengar di kedua telinga ini. “uuupss………maaf yaa Maita, aku buru-buru”. “Rangga??? Gak apa kok, aku juga buru-buru”. Maita berlari menuju halaman kampus. Seorang laki-laki tampan, yang bernama Rangga adalah seorang pria yang Maita sukai. Namun, Rangga tidak begitu memperhatikan wanita, karena dia selalu sibuk dengan kuliahnya. Maita hanya menyimpan perasaannya terhadap Rangga. Dia selalu menulis isi hatinya pada buku Diary. Voni sahabatnya juga tidak mengetahui bahwa Maita memiliki perasaan yang dalam terhadap Rangga.
Detik demi detik terlewati, 4 tahun berlalu. Voni dan Maita telah sarjana. Voni dan Maita bekerja di sebuah kantor. Sedangkan Rangga menjadi dokter di salah satu rumah sakit terbesar. “ ayolah….. ikut ke kantin yuk ta?”. “von, aku gak ingin makan. Dada ku sakit dan aku lemas. Kamu pergi saja dengan pacarmu Arya, maaf yach?” . “yaa… sudahlah!! Bye…. Maita”. Berjalan selangkah demi langkah, seakan dunia ini berputar hingga tak dapat berdiri dengan tegak. Di pinggir jalan yang begitu ramai, tanpa sadar tertidur di antara keramaian. “ dimana aku? Mengapa aku di rumah sakit?”. “ta, kamu masih ingat aku? Aku Rangga, dan aku yang membawamu ke sini. Aku menemukanmu di pinggir jalan karena kamu pingsan”. Maita memejamkan matanya, seakan dia bermimpi karena seorang laki-laki yang selama ini dia cintai ada di hadapannya. “ Maita…….. kamu tidak apa-apa kan nak? Mama di sini akan selalu menjagamu”. “ tidak ma, ta gak apa kok. Mungkin ta hanya lelah saja”. Waktu berjalan begitu cepat, Maita dan ibunya pulang ke rumah. Maita duduk di halaman belakang rumah. “ta, sudah malam. Masuk kerumah yuk? Kamu kan perlu istirahat”. “mama, lihat bintang di langit, papa tersenyum indah pada Maita. Seakan ta akan terbang bersama papa”. “maksud kamu apa nak? Kenapa kamu berkata begitu? Papa akan selalu menjagamu. Dan mama akan selalu denganmu”. Maita tersenyum pucat. “mama, ta sebenarnya sangat mencintai Rangga, tapi ta rasa Rangga gak sayang sama ta”. “Hidupmu masih panjang, kamu pasti bisa bersama Rangga”. Maita tertidur di bahu ibunya.
Matahari tersenyum indah menyambut hari yang cerah. Maita pergi ke kantor. Ketika Maita sedang mengerjakan tugas kantor, tiba-tiba telepon berbunyi. “hallo?? Iya, kenapa tante?”. “ta, Voni kecelakaan dan Voni sudah tak ada untuk kita lagi”. Dengan suara terengsak-engsak ibu Voni memberikan kabar kepada Maita. Maita tak dapat menahan air matanya dan segera berlari menuju rumah sakit. “Voni, kenapa kamu tinggalkan aku? Hanya kamu yang selalu menghibur dan mengerti keadaanku”. Sambil memeluk tubuh Voni yang tak berdaya, dengan air mata yang terus mengalir dan tangan yang lemas tak tahan menerima kenyataan. Rangga memegang bahu Maita, “ ta, sabar ya?”. Ketika tepat matahari berada di atas kepala kita, pemakaman voni berlangsung. Maita sangat terpukul dan tak kuat menahan sesak di dada. Karena Voni sudah seperti kakaknya sendiri dan mereka berteman sejak kecil hingga sekarang. Tepat di depan makam Voni, Maita terjatuh dan pingsan untuk ke dua kalinya. Rangga membawa Maita ke rumah sakit. “Rangga, ini mama Maita. Bagaimana keadaan Maita?”. “maaf tante, dokter Rudy sedang menangani Maita”. “Rangga, tante ingin bicara denganmu.” “iya tante ada apa?”
“Maita adalah anak yang lemah dan sulit menerima kenyataan, dulu ketika ayahnya meninggal, Maita selalu menangis dan jatuh sakit. Sekarang sahabat yang paling dia sayang pergi meninggalkannya. Sebenarnya Maita sangat mencintaimu”. Rangga terkejut mendengar kata Ibu Maita. “tante, ngga sebenarnya juga sayang sama Maita, tapi ngga takut Maita gak suka sama ngga”. Kemudian dokter datang dengan muka yang begitu serius. “dok, apa yang terjadi pada Maita?”. “begini bu, Maita terkena penyakit yang begitu serius dan parah. Ternyata penyakit ini sudah dia derita cukup lama. Maita terkena kanker hati”. Saat mendengar itu, Ibu Maita pingsan dan Rangga membawa Ibu Maita pulang ke rumah. Ketika ibu maita tersadar, dia langsung menuju rumah sakit. Maita sudah di perbolehkan pulang. Tetapi kondisi Maita sangat lemah. Setiap hari Rangga selalu datang menemani Maita. Seakan semua beban Maita berkurang. Besok malam adalah hari ulang tahun Maita. Dia sangat menyukai pantai. Maita dan Rangga merayakan berdua di pantai. “ta, aku ingin jujur padamu. Walau ini terdengar buruk, tapi aku hanya ingin kau tau isi hatiku”. Rangga membelai lembut wajah Maita. “ta, aku sayang kamu”. Maita menatap Rangga dengan lemas, “ ngga, sebenarnya aku juga sayang kamu”. Maita lemas dan kepalanya terjatuh di pundak Rangga. Dengan panik Rangga membawa Maita kerumah sakit.
Ternyata penyakit Maita sudah sangat parah. Hidupnya sudah di ujung. Baru saja dia merasakan cinta yang telah dibalas oleh Rangga, tapi kini mereka harus terpisah. Saat itu juga, ketika Maita belum sadar. “nak, mama tau kamu begitu mencintai Rangga. Kamu juga masih muda dan masih pantas untuk tetap di dunia ini”. Dengan air mata yang terus mengalir, Ibu Maita harus mengambil satu jalan. “ Rangga, jika tante sudah tak ada lagi, tolong jaga Maita untuk selamanya karena dia sudah tak punya siapa-siapa lagi”. Operasi berjalan dengan lancar. Ibunya mendonorkan hati nya untuk Maita. Maita tersadar dengan keadaan yang membaik. Ketika Rangga menceritakan kejadian yang sebenarnya, Maita berlari menuju ibunya yang telah berbaring lemas. Tatapan mata bergelinang air mata, seakan menutup mulut hingga tak dapat berkata. Kaki dan tangan tak dapat bergerak ketika melihat ibu berbaring tak berdaya. “mama……… mengapa mama melakukan ini? Maita sudah kehilangan ayah, Voni dan sekarang mama”. Sungguh erat pelukan Maita di jenazah ibunya. Pemakaman berlangsung dengan hati yang begitu tak kuasa untuk menerima semua ini. Sehat dari penyakit, dengan harus kehilangan orang yang di sayang. Tepat di makam ibunya. Bersandar lemas penuh air mata di pundak Rangga dan menggenggam erat tangan Rangga. “ngga, aku seakan berjalan di tengah kehidupan yang penuh dengan debu. Tak dapat melihat jelas dan berjuang hidup dengan mengikuti arah cahaya terang. Akankah aku bisa tetap bertahan berjalan mengikuti cahaya dalam debu yang membuat aku tak dapat melihat jelas?”. “ta, aku akan selalu menuntunmu, walau debu membuat pengelihatanmu buram, aku akan menjadi matamu dan menuntunmu menuju cahaya tanpa debu”. “ngga, aku senang cinta ku terbalaskan, tapi aku tak bisa kehilangan seorang ibu yang selama ini menemaniku. Aku ingin kamu tetap mengukir indah nama ku jika aku tak dapat menemanimu selamanya”. Tangan Maita yang menggenggam erat Rangga, terlepas dengan lemas dan menghembuskan nafas terakhir serta tetesan air mata untuk cinta diantara orang tua, sahabat dan kekasih terputus sampai disini. Pengorbanan seorang ibu demi anaknya untuk meraih perasaan yang selama ini ia pendam telah di terima oleh Maita. Walaupun dalam mimpi diantara bintang-bintang. “akan selalu ku jaga cintamu yang baru aku rasakan” tetesan terakhir dari Rangga untuk Maita.
Minggu, 02 Juni 2013
Langganan:
Komentar (Atom)
